by

Album GRAUSIG “Re-Abandoned, Forgotten, & Rotting Alone”, Lebih Brutal dan Lebih Mengerikan!!!

GERILYA MAGAZINE – Dikalangan Underground dan Metalhead Indonesia siapa yang tidak kenal dengan band ‘mengerikan’ yang terbentuk tahun 1989 di Jakarta ini? Yup, GRAUSIG adalah legenda monster band death metal tanah air yang masih aktif menelurkan album-albumnya. GRAUSIG pertama kali menunjukkan taringnya lewat EP yang bertitel “Feed The Flesh To The Beast” (1997), disusul dengan album “Abandon, Forgotten, & Rotting Alone” (1999).

Sempat vakum selama 10 tahun, GRAUSIG pun kembali berkarya dengan mengeluarkan karya-karyanya seperti LP “Tiga Dimensi” (2002), EP “In The Name Of All Who Suffered and Died” (2013), Promo CD “God’s Replicated” (2014), LP “Di Belakang Garis Musuh” (2016) dan LP “Dogma Dunia Baru” (2018).

Dari sekian banyak album GRAUSIG dan salah satunya menjadi masterpiece mengerikan adalah album “Abandon, Forgotten, & Rotting Alone” yang dirilis oleh Indipendent Records (Aquarius Musikindo) dimana saat itu album tersebut menjadi acuan dan mempengaruhi banyak band-band death metal Indonesia.

Untuk merayakan dua dekade album “Abandon, Forgotten, & Rotting Alone” ini, GRAUSIG kembali masuk studio untuk merekam ulang lima lagu dari album tersebut dan pada 29 Desember 2019 resmi dirilis oleh Disembowel Records dengan titel baru “Re-Abandoned, Forgotten, & Rotting Alone”. Terdapat enam lagu di EP “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone”, yaitu 1. The Omens of Titanic Martydom, 2. Horrendous Dead in Xenodochium, 3. Thy of The Damned, 4. Father of The Flesh, 5. Embalmed Crucifixion, 6. …Dismemberment. Lagu “Thy of The Damned” adalah single terbaru GRAUSIG yang sengaja disisipi sebagai bonus track.

Keenam lagu dalam EP “Re-abandoned, Forgotten & Rotting Alone” direkam oleh line-up terbaru GRAUSIG, yaitu Bolonk (Vocal), Meme (Guitar & Backing Vocal), Ewin (Bass & Backing Vocals) dan ‘the front man’ Denny (Drums)serta dalam pengerjaan album ini dibantu sederet musisi metal seperti Andre Tiranda (Siksa Kubur), Pipink (Straightout), Atenx (Panic Disorder) dan Robby Agam.

Yang pasti kualitas rekamannya dalam album baru ini lebih rapih dibandingan dengan album lamanya. Meski materi lagu yang disuguhkan adalah materi lama namun dibawakan dengan karakter yang tak jauh berbeda. Mari kita review lagunya ya…

The Omen Titanic Of Martyrdom, trek pertama atau pembuka dari album EP Grausig ini langsung menghajar tanpa ampun. Kualitas rekaman yang bagus dan kualitas vokal yang lebih jelas dari alm. James membawa angin segar untuk menikmati lagu ini. Ketukan drum yang agresif dan tone gitar yang jelas membawa pembaharuan dari lagu yang sebelumnya telah direkam. Pada lagu ini Grausig tidak banyak mengubah konsep musik dari album terdahulu dan tidak mencoba mengeksplorasi aransemen yang lama. Era keemasan Grausig album Abandon, Forgotten and Rotting Alone ingin diulang kembali oleh Grausig dengan formasi terbaru. Karakter vokal yang tidak sedalam growling alm James jelas membedakan nuansa Grausig yang dahulu dan sekarang. Sayatan gitar Mame cukup baik dan bisa membuat warna baru untuk Grausig dalam album baru ini.

Lagu kedua ya… ‘Horrendous death in xenocodhium’. Lagu kedua dari album Grausig ini tidak memberikan jeda pada vokal. Vokal growl dan scream bergantian dengan irama gebukan drum yang cepat dengan ritem gitar yang juga cepat. Vokal yang lebih bright dibandingkan dengan vokal almarhum James. Meski tidak ada perubahan yang baru dari lagu ini. Namun vokalis seperti tidak diberikan nafas untuk beristirahat dan monoton sehingga telinga tidak diberikan jeda untuk santai sejenak. Mungkin lebih baik kalau ada ritme yang sedikit lambat pada bagian tertentu dan lead gitar yang harmonis dengan ketukan drum 1/8 agar musik Grausig lebih berwarna dan pastinya harus tetap gahar pada setiap riff gitarnya.

‘Thy Of The Damned’, lagu ketiga ini adalah lagu yang belum pernah direkam sebelumnya oleh Grausig. Lagu ini tetap mempertahankan ciri khas Death Metal ala Grausig. Kecepatan drum dan gitar yang masih bisa dicerna oleh kuping saya secara pribadi. Vokal Bolonk cukup baik untuk komposisi lagu ini. Komposisi lagu ini memberikan penyegaran baru dengan penambahan lead gitar yang melodius dan tetap pada patern ritem gitar Death Metal Mame. Secara keseluruhan lagu Grausig ini bisa menambah poin bagus untuk album E.P baru Grausig.

Lagu keempat, ‘Father Of Flesh’. Lagu ini tidak banyak mengalami perubahan seperti pada lagu-lagu sebelumnya. Benang merah Suffocation masih melekat kuat pada Grausig. Pada lagu ini Grausig masih mengandalkan permainan cepat tanpa banyak mengeksplorasi.

Mendengar lagu kelima dari Grausig ‘Embalmed Crufixion’ ini langsung mengarah kepada Suffocation walaupun vokal yang di muntahkan Bolonk tidak terlalu low tapi cukup baik terdengar. Sayatan gitar dari Mame dan gebukan drum dari Denny tidak terdengar monoton dan masih ada bagian riff yang enak untuk head bang walaupun ketukan 1/16 masih dominan. Vokal Bolonk yang terus menggedor tanpa ampun memberikan aroma Suffocation semakin terasa. Nilai tambah untuk lagu ini selain riff- riff gitar dengan distorsi gitar yang padat dan gebukan drum tanpa celah antara lain adalah lead gitar yang dimainkan Atenk cukup memberikan warna tersendiri dengan pentatonik harmonisasi neo classical. Dentuman bass dari Erwin yang seirama dengan pedal drum Deny membuat lagu ini semakin padat.

Lagu pamungkas ‘Dismemberment’, di trek terakhir dari album EP Grausig ini menghadirkan gitaris tamu dari Siksa Kubur “Andre Tiranda”. Darah muda Grausig tahun 1999 seperti diulang kembali dalam lagu ini. Kesolidan dan emosi bermusik ke-empat personil ditonjolkan dalam lagu terakhir ini. Gebukan drum Denny tetap rapat dan masih memberikan energi bagi ketiga personil yang lain. Lead gitar Andre Tiranda tidak terlalu jelimet dan sesuai porsi lagu ini.

Menikmati album ini membuat kita teringat dua puluh tahun yang lalu album “Abandon, Forgotten and Rotting Alone” dengan formasi James, Ricky, Boby dan Denny. Walaupun personil lama yang tersisa hanya Denny tetapi tidak meninggalkan ruh Grausig dengan formasi yang baru ini. Tidak ada perubahan yang signifikan dalam aransemen tetapi Grausig memberikan warna dan semangat yang baru seperti era kejayaan Grausig dua puluh tahun yang lalu

Yang menarik perhatian lagi dari album ini adalah artwork cover CD yang dikerjakan oleh Rudi Gorging Suicide Art, berhasil mere-covery dari fosil album lamanya dengan membuat lebih hidup karakter didepan cover yang lebih kejam dan sadis. Album “Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone” ini juga ternyata didedikasikan GRAUSIG sebagai memorial dan penghargaan kepada sang vokalis yaitu James Andri Budianto (1974 – 2017) yang selama tergabung di band ini turut membidani tiga album pertama GRAUSIG.

Secara keseluruhan album GRAUSIG “Re-Abandoned, Forgotten, & Rotting Alone” ini menyuguhkan kualitas dan kemasan yang professional dengan tetap menjaga kenangan lama ‘mengerikan’ 20 tahun itu tetap ada di kepala dan kuping kita. Pokoknya bagi para metalhead wajib punya album ini, karena ini lebih brutal dan lebih mengerikan!!! (Alam Gerilya & Wira Adaptor)

GRAUSIG Management
0812 6236 1974
grausigmanagement@gmail.com
www.grausig.net

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.