by

Propaganda Kedjawen Pagan Front ala MAKAM

Menyebut band Black Metal asal Kota Solo tentunya akan ada nama MAKAM. Band Pagan Javanese Black Metal ini dulunya bernama SUCKER GRAVE, mereka sangat berambis membumikan musik black metal di scene nasional, yang dalam sentuhan bermusik MAKAM.

Tidak hanya teks musikal, dalam karya teks musikal Makam tersebut terdapat sebuah penyisipan mantram-mantram yang berisikan tentang kekuatan alam. Dan Makam dengan tegas mengatakan bahwa mereka adalah Kedjawen Pagan Front yang menyuarakan dan mensyiarkan mengenai anti inculturasi resisten.

Kebanyakan dari lagu-lagu Makam mempunyai makna atau arti membawa pesan moral itu, menurut pandangan orang awam. Sebenarnya aksi band yang berdiri tahun 1993 ini adalah sebuah propaganda yang menyuarakan paganisme, pesan moral, cinta terhadap lingkungan, dan spiritualitas lebih dimuliakan, mengecilkan arti sebuah religiusitas yang menurut senimannya itu sangat lemah, lemah disini artinya setiap orang yang telah mencapai titik level yang mereka inginkan, mereka kemudian akan lupa dengan hal tentang kepedulian akan lingkungan.

Erly dari GERILYA Magazine berhasil ngobrol sedikit bersama Shiva Ratriarkha sang vokalis dan salah satu frontman Makam. Dia akan menjelaskan panjang lebar akan arti propaganda Kedjawen Pagan Front.

Selamat malam mas Shiva Ratriarkha….bagaimana kabar anda dan band anda saaat ini?
Ya, Wilujeng dalu. Saya sendiri Djiwo di sini kabarnya baik. Julius, Jomboth dan Pappo … semua masih dalam kondisi fit dengan status tetap berupaya bertahan sembari menjaga keseimbangan. Terimakasih.

Seperti yang kita sama-sama kenal…makam adalah band black metal asal Solo Jawa Tengah yang telah lama dan berkontribusi untuk scene metal tanah air dan konsep yang kalian usung selama ini terlihat solid dan mantab kalian pegang…nah sebuah pertanyaan mendasar dan ringan..pertamakali…apa sih arti dan kenapa kalian mengusung nama MAKAM untuk band kalian? ….
Band ini pada awal tahun 1993 bergelar SUCKER GRAVE, dua tahun kemudian aku bergabung dan kami sepakat menggantinya dengan MAKAM, ditandai dengan keluarnya debut demo “Sympathy for the Beast”. Kata Makam sebenarnya hanya dipilih secara sederhana karena ada kesadaran untuk meringkasnya cukup dengan dua suku kata saja. Secara makna kata tidak ada yang istimewa, hanya perlu dibayangkan saja pada era tersebut memilih dengan kesadaran penuh gelar nama band dengan istilah yang tidak populis ato tidak terdengar keren mungkin memang akan berasa sesuatu banget. Arti khusus sebenarnya bisa saja diuraikan dengan panjang dan bertele-tele karena memang kebetulan jenis musik yang kami suarakan ini dikenal cukup sarat bahasa simbol. Cuplik saja, Makam adalah tempat peristirahatan terakhir di bumi, dan itu dapat dilekatkan dengan elemen tanah. Dari perhentian memaknai tentang kekuatan unsur tanah ini saja bukankah kita semestinya telah cukup untuk mendapatkan pemahaman dan pesan kesadaran tentang banyak hal, bukan?
Yaa inilah kami, MAKAM. Kadang ada yang masih mengingat kami dengan menyebutnya sebagai klan, makamraiders (plesetan dari tombraiders), wong makam dsb. thus apapun itu, kami apresiasi dengan baik.

Bagaimana kalian mendeskripsikan musik & konsep dari “kedjawen pagan front” menurut kalian?
Sebelumnya, ada beberapa kondisi yang perlu kalian persiapkan untuk bisa memahami pesan dari propaganda Kedjawen Pagan Front secara utuh. Di sini aku hanya akan menggambarkannya secara ringkas. Kedjawen Pagan Front adalah roh dari semua tulisan dan karya Makam. KPF adalah konsep pertahanan secara moral dan bagian dari strategi kebudayaan. KPF adalah hasil kreatif dari reaksi kami yang melihat bahwa ada pergerakan modifikasi penjajahan baru dalam kebudayaan, softpower invasion. Perlahan namun pasti generasi bangsa ini tidak akan lagi mengenal wajah kebudayaan asli bangsanya sendiri dan ujungnya kita tidak akan lagi mempunyai jati diri dan karakter sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Kita semua mengenal istilah “Black Metal ist Krieg” bahkan kita kelewat sering berkoar menyuarakannya di gig atau ruang-ruang publik komunitas kita. Black Metal adalah Perang, …Iya, kami juga sepakat. Kesepakatan kami landasi lewat pemaknaan baru. Kami harus membuka mata dan peka dengan apa yang terjadi di sekitar hari ini. Dan realitasnya adalah tidak ada alasan untuk copy paste ideologi BM itu di sini. Bahasaku BM harusdi”bumi”kan di Indonesia. Lewat musik ini KPF merumuskan gagasan bahwa bukan lagi bentuk-bentuk institusi keimanan atau simbol agama yang kita lawan di negeri ini, tapi justru manusianya. Kawanan manusia dengan perilaku “mabuk” keagamaan dan serentetan tindakan bejat atas nama agama inilah fakta yang terjadi hari ini, di sini.Dominasi relijiusitas mereka yang terlalu jumawa terhadap kultur, tradisi, adat dan alam hayati yang pantas kita kritisi. (Maaf, aku lebih suka gunakan kata kritis agar lebih terdengar santun, meski pada tataran teknis di lapangan itu tidak lagi sama. Karena ini sekaligus sikap KPF yang secara khas memaknai tagline legendaris “ANTI HUMAN – ANTI LIFE”)
Rumusan konsep KPF adalah refleksi dari kondisi sekarat yang terjadi atas penghancuran kebudayan bangsa ini secara massive dan berkala. Krisis multi dimensi negeri ini adalah indikasi kenampakan awal tentang dampak yang terjadi, namun ironisnya kita tidak menyadarinya (karena disadari atau tidak kita justru sering kedapatan menyumbang kebusukan di tengah kondisi sakit negeri ini). KPF bukan penyokong ide rasis dan lux blower tentang hebatnya ras jawa, tidak sama sekali. Meski KPF berbasis kejawaan namun kami justru menyuarakan kesadaran secara nasional bahwa kita menyiapkanketahanan di sini. Ini wilayah kami yang harus kami selamatkan. Kalian metalheads juga selayaknya bertanggung jawab atas kesadaran hal yang sama di wilayah bumi pertiwi kelahiran kalian masing-masing. Jadilah metalheads yang mempunyai prinsip kepedulian atas kelestarian alam, keanekaragaman tradisi suku dan ke-khas-an bahasa daerah kalian. Di ujung konsep penyatuan semuanya ini kita bertemu di derajat kesadaran akan satu nusa satu bangsa, jiwa bela negara dan NKRI harga mati.
KPF hanyalah istilah kreatif yang mempunyai tujuan membangun kewaspadaan dinisekaligus pernyataan sikap yang disajikan dan digaungkan melalui “kendaraan tempur” bernama musik metal. Itu penjabaran sederhananya dari aku tentang apa yang kami perjuangkan bersama MAKAM.

Tjleret Taon Lyric

Semoga pembaca Gerilya sedikit paham arti pagan di Makam ya mas, Apakah itu cuma sebatas di panggung/bermusik atau bagaimana dengan filosofi keseharian kalian?
Panggung bagi kami hanyalah perayaan musikal dan mimbar syiar untuk koar liar dengan bahasa simbol, ritual gathering saat jeda di antara kaum metalheads itu sendiri lah yang kami yakini sebagai moment penting, di sanakitabisasalingsapa, bersosialita, debatseruataubahkan sharing informasidanselebrasi…dan itu singkat selain juga tidak efektif. Jadi artinyajika kita telah mendedikasikan konsep ini ke dalam cara pandang, keyakinan bahkan sekaligus mengukuhkan diri sebagai agen daya pengubah maka menjadi yang sebenarnya dalam interaksi sosial dan kehidupan reguler pastilah tidak terelakkan. Bukankah kita juga telah sama-sama mengenal slogan oldskool “Be True With Yourself?!”
Zona ruang waktu sebagai metalheads adalah yang sejatinyasaya, sebab ketikaa kuberada di permukaan “dunia” yang lain justru aku masih merasa banyak menyesuaikan untuk berperan sebagai manusia dengan segenap keterbatasannya hahahahaaa…

Apa alasan kalian mengangkat tema itu…dan apa perbedaan tema yg kalian usung dengan tema black metal pada umumnya?
Alasannya sederhana, sejak mengenal BM 20th yang lalu kami sadar bahwa sub genre heavy metal inilah yang paling meyakinkan dan menjamin kebebasan kami untuk berekspresi dari musikalitas hingga cara berfikir secara radikal.
Bagus, ini menariknya. Dalam banyak hal dan penentuan tema kami sebenarnya telah berupaya dengan keras untuk “sama” dengan BM pada umumnya dan kami meyakininya itu, tapi ternyata di luar publik tetap saja menilai sebaliknya.
Jadi biarlah apapun opini yang berkembang.

Adakah band luar negeri / lokal yang menjadi influense kalian selama ini?..
Ya pastinya ada, semua Svartmetall dan seluruh Metal Hitam Indonesia telah menjadi inspirasi buat kami.

Lirik lagu yang kalian tulis kebanyakan bercerita mengenai apa?…dan siapa yg menulis lyriknya?
Lirik lagu banyak berbicara tentang semuakontra-konfesorsisi lain tuhan versi triarsi abrahamik padang pasiran dengan segenap kecongkakan golongan yang meyakininya.
Aku sendiri yang nulis dan yang menuturkannya.
Di negeri ini kuat saja tidak cukup dan menjadi tajam itu perlu. Karena hanya dengan demikian kamu bisa melukai secarahebatsebelum lawanmu menyadari telah disakitidansekarat.

Single “Tjleret Taon” dirilis secara digital pada 13 Maret 2013. Lagu ini memuat lirik berbahasa Jawa….bisakah menjelaskan secara singkat makna dan isi dari lyrik dalam single ini…?
Tjleret Taon adalah nama lain dalam dialek jawa yang berarti angin puting beliung, liriknya sarat pesan dari alam yang sedang merefleksikan dirinya kepada manusia dalam rupa jahat.

Menurut kabar yang saya dengar makam akan merilis album baru bertitle “mahamakam” bisakah menceritakan sedikit bocoran info tentang album tersebut ?…khusus untuk para pembaca gerilya tentunya :v …
Waw, such a honor for us… dengan bangga dan senang hati aku ingin sekali berbagi, hanya sayangnya aku tidak punya permit utk bicara tentang hal itu. Tetapi makasih sudah peduli dan rasa keingintahuannya yang simpatik.

Terimakasih untuk interview singkat dan sederhana ini…..adakah pesan yangingin disampaikan untuk para metalhead tanah air?…….keep the flame burning..!!
Tetaplah jujur dalam berkarya dan menjadi supporter metal sejati dengan membeli rilisan fisik.
Metalheads adalah generasi kombatan pengubah dunia, bersikap dan bertindaklah menjadi yang sepantasnya.

Hail & Viktorios!!!
Salam Pembebasan dari Djiwo Ratriarkha dan MAKAM, The Trve Raiders!


Artikel ini pernah dimuat di GERILYA MAGAZINE Edisi #13 Tahun 2015