by

SANTET dengan Album Pengingat Pandemic Covid-19

Salah satu unit Javanese Black Metal asal Purwokerto yang sampe saat ini masih setia dengan style origin nya, eksis dan makin beringas menunjukkan karya karyanya kembali menelurkan album ke 9 rilis 2020. Album ini beda dengan album sebelumnya terutama dalam proses penggarapannya, mereka melibatkan beberapa musisi Metal Indonesia sebagai penulis musiknya. Menurut sang Frontman “Budi Black Ustadz” Album religion lost merupakan album sela menuju album ke 10 nanti, dibuat nya album ini untuk mengenang seumur hidup kejadian yang sedang dialami yaitu tentang pandemic corona yang memvirusi manusia sampai ke gelap nya inner soul manusia. Terutama terhadap diri sendiri yang mungkin akan diingat seumur hidup seperti terhadap nyaris hilangnya keyakinan pegangan hidup, depressive dll terimbas oleh covid19 yang mereka percaya merupakan troops of satan yg berhasil mengintimidasi manusia.

Diawali dengan track “Pandemic Orchestra” di track ini hanya berisi orchestra dari keyboard mengiringi sebuah syair menyayat jiwa dengan choirs yang kelam mengingatkan tentang kepedihan runtuhnya keyakinan manusia “apakah Tuhan masih bersama kita”

Di track ke dua ada lagu andalan “Religion Lost” yang musiknya di tulis oleh Andre Tiranda gitaris dari “SiksaKubur” unit Deathmetal dari Jakarta, Dengan intro yang megah Riff yang variatif yang di balut aransement atmospheric dan hasilnya mengingatkan Dimmu Borgir dengan Black Metal modern nya, Religion Lost mereka artikan sebagai hilangnya keyakinan dalam mencari Tuhan. “Karena masih banyak yang mengkultuskan tempat ibadah daripada hubungan spiritual langsung dengan Sang Maha Pencipta dengan tanpa harus melihat lokasi untuk peribadatan. Manusia seperti kerasukan kesetanan dengan pelarangan ibadah di tempat ibadah saat pandemic” kata Vokalis ber badan tambun ini.

“The Lamb Of Goat (Satan Supremacy)” ada di track ke tiga, lagu ini musiknya di ciptakan oleh jon munkar gitaris dari “Restu Iblis”. Intro keyboard membuka nuansa megah yang di ciptakan untuk mengawal beat pelan dinamis dan riff melodik

“Indoctrination Possesed by Religions Drunken” Lagu yang pelan bertenaga ini bercerita tentang manusia pemabuk agama yang kerasukan doktrin sesat jiwa. Musiknya diciptakan oleh Musa La Vey yang seorang gitaris dari Band beraliran Ghotic Metal “Moses Bandwith”

Selanjutnya ada “Murko Jagad” dengan awalan keyboard dentingan nada Javanese. Ada part Iron Maiden terselip di tengah lagu. Syairnya mengingatkan ke kita tentang murkanya alam karena tindak tanduk penghuninya yang tidak menghargainya. Lagu ini musiknya diciptakan oleh Hestu Widodo gitaris “Soulsick” dan syairnya ditulis oleh Yorfire Sathanoz vokalis dari “King Ov Amreta” (RIP)

Track ke enam ada “Funeral of Madness” yang musiknya di tulis oleh Cahyo gitaris dari band “Histeria”. Kembali keyboard sebagai pembuka dan dilanjut dengan part part sederhana bernuansa heavy metal dengan sentuhan solo gitar yang manis ditengah. Lagunya berisi tentang berbagai persoalan penguburan korban Covid19

Di lagu ke tujuh ada “Covid Hell Phobia” yang musiknya di ciptakan oleh gitaris Dark Orchestra “Adest Noegh”. Lagu ini durasinya paling panjang diantara lagu yang lain, lagu yang dinamis dan variatif di part partnya. Ditengah lagu di isi clean guitar yang tentunya memperkaya aransemen lagu

Track ke delapan “Kidung Wahyu Kolosebo (attribute)”  lagu yang sedang viral karya Sri Narendra Kolosebo dan sudah banyak yang men cover ulang dari berbagai genre, kali ini Santet mempersembahkan aransemen berbeda untuk lagu ini dan sebagai lagu andalan yang sudah di bikini video klip nya. Lagu kolosebo untuk mengartikan bhw sejatinya manusia akan kembali ke jalan yang ditakdirkan terhadap keagungan Sang Penguasa Semesta meskipun harus melalui cobaan, guncangan jiwa yg cukup luar biasa.supaya kita lebih menentramkan inner soul untuk siap menuju hari yang di takdirkan. Ada sentuhan female yang kali ini di hadirkan oleh santet di lagu ini

Sebagai track pamungkas “Kutukan Nyai Ratu Kidul” ditulis sendiri oleh Santet sebagai penutup album Religion Lost. Dentingan pentatonic khas Javanese langsung di hadirkan dengan iringan beat blasting. Dan memang inilah Santet dengan ciri khas nya yang tidak pernah berubah dari awal terbentuk hingga sekarang

“Lebih berat syair2 album ini berpesan kepada diri sendiri dan orang lain pada umumnya untuk bisa membawa diri dan menjinakkan segala bentuk kesetanan yang menguasai jiwa dalam menghadapi pandemonic  ini. jadi lebih fokus ke inner soul of darkness” lanjut Budi Black Ustads

Disini terlihat jelas gaya musik yang bervariasi sesuai dengan root dari masing masing pencipta dasar musiknya yang berbeda beda dan kemudian di kemas oleh Santet dengan ke khas an mereka. This album was made like a hurried over a moment, so that there is less exploration of some songs that can still be maximized. Berbeda dengan album sebelumnya yang lebih padat dan terencana Exhilarating and detailing yet carefully arranged on virtually all fronts from a musical standpoint, it’s a record that is likable A to Z. Ilustrasi Cover di album ini menggambarkan sosok berjubah dengan Icon Covid19 di depannya. Terdapat  foto 6 gitaris yang di ikut andilkan dalam menciptakan album ke Sembilan ini. Album ini sengaja dibuat limited di produksi di indonesia hanya 100 cd dan kaset dalam bentuk boxset, dirilis oleh Black Ustadz records. Sedangkan di Malaysia hanya di cetak 300 cd dan di percayakan oleh label GerakSilang Production…. Silahkan kalian cari cara sendiri untuk mendengarkan lagu lagu di Album “Religion Lost”…. Hail Javanese Black Metal. (HW – Gerilya Magazine)

Contact Band and original merchandise : Budi Bawono +62 816698311

Youtube : SANTET Official

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.